Rabu, 09 Maret 2016

Derivat Epidermis

A.      Derivat Epidermis
                Derivat epidermis adalah suatu suatu bangunan atau alat tambahan pada epidermis yang berasal dari epidermis, tapi memiliki struktur dan fungsi yang berlainan dengan epidermis itu sendiri.
Macam-macam derivat epidermis antara lain :
1.        Stomata adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berlainan dengan epidermis.
Fungsi stomata: Sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis Sebagai jalan penguapan (transpirasi)/ Sebagai jalan pernafasan (respirasi) Sel yang mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup. Sel penutup letaknya dapat sama tinggi, lebih tinggi atau lebih rendah dari sel epidermis lainnya. Bila sama tinggi dengan permukaan epidermis lainnya disebut faneropor, sedangkan jika menonjol atau tenggelam di bawah permukaan disebut kriptopor. Setiap sel penutup mengandung inti yang jelas dan kloroplas yang secara berkala menghasilkan pati. Dinding sel penutup dan sel penjaga sebagian berlapis lignin.

·      Berdasarkan hubungan ontogenetik antara sel penjaga dan sel tetangga, stomata dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
*   Stomata mesogen, yaitu sel tetangga dan sel penjaga asalnya sama.
*   Stomata perigen, yaitu sel tetangga berkembang dari sel protoderm yang berdekatan dengan sel induk stomata.
*   Stomata mesoperigen, yaitu sel-sel yang mengelilingi stomata asalnya berbeda, yang satu atau beberapa sel tetangga dan sel penjaga asalnya sama, sedangkan yang lainnya tidak demikian.




·         Pada tumbuhan dikotil, berdasarkan susunan sel epidermis yang ada di samping sel penutup dibedakan menjadi empat tipe stomata, yaitu:
*      Anomositik, sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang tidak beda ukuran dan bentuknya dari sel epidermis lainnya. Umum pada Ranuculaceae, Cucurbitaceae, Mavaceae.
*      Anisositik, sel penutup diiringi 3 buah sel tetangga yang tidak sama besar. Misalnya pada Cruciferae, Nicotiana, Solanum.
*      Parasitik, setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga/lebih dengan sumbu panjang sel tetangga itu sejajar sumbu sel penutup serta celah. Pada Rubiaceae, Magnoliaceae, Convolvulaceae, Mimosaceae.
*      Diasitik, setiap stoma dikelilingi oleh 2 sel tetangga yang tegak lurus terhadap sumbu panjang sel penutup dan celah. Pada Caryophylaceae, Acanthaceae.
2.       Trikomata merupakan rambut bersel satu atau bersel banyak dibentuk dari sel epidermis, struktur yang lebih besar dan padat seperti kutil dan duri, tersusun oleh jaringan epidermis atau jaringan di bawah epidermis (emergens).

·         Trikoma dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
*      Trikoma non glandular (tidak menghasilkan sekret) Rambut uniselular sederhana atau multiselular uniseriat, yang tidak memipih, umum dijumpai pada Lauraceae, Moraceae, Triticium, Hordeum, Pelargonium, dan Gossypium. Rambut skuamiform (bentuk sisik) yang multiselular dan memipih nyata sekali. Contohnya pada Olea dan Cruciferae. Rambut multiselular yang dapat berbentuk bintang atau tempat lilin bercabang. Misalnya pada Styrak, Platanus, dan Verbacum. Rambut kasar, trikoma kasar berserat, yang dipangkalnya terdiri atas sedikitnya dua atau lebih deretan sel yang berdampingan.
*      Trikoma glandular (menghasilkan sekret) Trikom ini dapat bersel satu, bersel banyak, atau berupa sisik.Trikom glandular terlibat dalam sekresi berbagai bahan, contohnya: trikom sekresi garam, trikom sekresi nektar, trikom sekresi getah, trikom sekresi terpentin, koleter, rambut sengat, rambut akar, dll.


·         Fungsi trikoma pada masing-masing organ:
*      Pada daun untuk mengurangi penguapan, mengurangi gangguan hewan dan manusia, meneruskan rangsang .
*      Pada bunga (nektaria) mengeluarkan madu untuk menarik serangga membantun penyerbukan.
*      Pada biji untuk mencegah gangguan serangga yang akan merusak biji, menyerap air sehingga biji menjadi lekas berkecambah dan tumbuh.
*      Pada batang untuk mjengurangi penguapan dan untuk memanjat (kaktus, rotan).

3.       Litokis terdapat pada epidermis Ficus dengan penebalan sentripetal yang tersusun oleh tangkai selulosa dengan deposisi/ endapan Ca-carbonat yang membentuk bangunan seperti sarang lebah dan disebut sistolit.

4.       Sel Silika dan Sel Gabus Pada Gramineae, di antara sel-sel epidermis yang memanjang, di sebelah atas tulang daun, terdapat sel pendek yang terdiri dari dua tipe sel, yaitu sel silika dan sel gabus. Sel silika dan sel gabus sering kali secara berturut-turut dibentuk dalam pasangan di sepanjang daun. Sel-sel silika yang berkembang sepenuhnya mengandung badan-badan silika yang berupa massa silika yang isotropik dan di tengah-temgahnya biasanya berupa granula-granula renik. Pada pandangan permukaan, benda-benda silika itu mungkin berbentuk bulatan, elips, halter, atau bernentuk pelana. Sel gabus dindingnya mengandung suberin dan sering mengandung bahan organik yang padat. Distribusinya menyebabkan pengerasan pada kulit batang. Bentuknya segitiga, segiempat, tidak teratur, angka 8, membulat, dll. Sel Kipas (buliform cell) Sel-sel ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan sel epidermis, berbentuk seperti kipas, berdinding tipis dan mempunyai vakuola yang besar. Dindingnya terdiri dari bahan-bahan selulosa dan pektin, dinding paling luar mengandung kutin dan diselubungi kutikula. Plasma sel berupa selaput yang melekat pada dinding sel dan berfungsi menyimpan air. Jika udara panas, air dalam sel kipas akan menguap, sel kipas akan mengerut sehingga luas permukaan atas daun akan lebih kecil dari luas permukaan bawah. Oleh karenanya daun akan menggulung dan akan mengurangi penguapan lebih lanjut. Lenti Sel Pada beberapa tumbuhan di permukaan batangnya ada bintik-bintik yang disebut lenti sel. Terjadinya lenti sel adalah apabila pada permukaan batang dulu dijumpai stoma, setelah stoma tidak berfungsi lagi maka stoma akan berubah fungsi menjadi lenti sel (pori gabus). Karena lubang stoma diisi oleh sel koripeloid, yaitu sel-sel yang dindingnya mengandung zat gabus. Sel gabus tersebut berasal dari kambium gabus yang tidak membentuk felem ke arah luar tetapi membentuk koripeloid. Semakin lama semakin banyak sehingga dan dapat tersembur keluar, sehingga dari luar tampak sebagai bintik-bintik.

5.       Velamen merupakan beberapa jenis sel mati yang terdapat disebelah dalam epidermis akar gantung atau akar udara pada tanaman Anggrek. Velamen berfungsi untuk menyimpan air atau menyimpan udara. Epidermis beserta velamen ada yang menyatakan sebagai epidermis ganda atau multiple epidermis. Parenkim Air (jaringan air) Parenkim air merupakan beberapa lapis sel di sebelah dalam epidermis daun tumbuhan xerofita. Tersusun oleh sel yang besar –besar berdinding tipis dengan vakuola sentral yang besar. Parenkim air berfungsi untuk menyimpan air pada tumbuhan xerofita. Epidermis beserta parenkim air disebut epidermis ganda. [1]




B.      Pada tumbuhan dikotil, berdasarkan susunan sel epidermis yang ada di samping sel penutup dibedakan menjadi empat tipe stomata, yaitu:
Jenis anomositik atau jenis Ranunculaceae
Catatan : Sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang tidak berbeda ukuran danbentuknya dari sel episermis lainya. Jenis ini umum terdapat pada Ranunculaceae,Capparidaceae, Mlvaceae.


Gambar literature :
Jenis anisositik atau jenis Cruciferae

Catatan : Sel penutup dikelilingi tiga buah sel tetangga yang tidak sama besar. Jenis ini umum terdapat pada Cruciferae, Nikotiana, Solanum.


Gambar literature :


Jenis parasitik atau jenis Rubiaceea

Catatan : Setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga atau lebih dengan sumbupanjang sel tetangga itu sejajar sumbu sel penutup serta celah. Jenis ini umumnya terdapat pada Rubiaceae, Magnoliaceae kebanyakan spesies Convolvulaceae, Mimosaceae


Gambar literature :
Jenis diasitik  atau jenis Caryophyllaceae


Catatan : Setiap stoma dikelilingi dua sel tetangga. Dinding bersama dari kedua seltetangga itu tegak lurus terhadap sumbu melalui panjang sel penutup sertacelah. Jenis ini umum terdapat pada Caryophyllaceae, Acanthaceae

Gambar literature :



PENGAMATAN MORFOLOGI DAUN

PRAKTIKUM V
PENGAMATAN MORFOLOGI DAUN



Disusun Oleh :

Nama                                       : Eka Saatur Rohmah
NIM                                        : 15.114054.1070
Hari / Tanggal Praktikum        : Jumat,18 Desember 2015
Pembimbing                            : Mila Ulfah Farista A.Md.Far

I.                TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa diharapkan mampu mengamati dan menyebutkan bagian-bagian daun serta sifat daun (bentuk, tepi, pangkal, ujung, susunan tulang daun, daging daun, warna, dll)
II.             DASAR TEORI
            Daun merupakan bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian yang lain pada tubuh tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekkatnya daun dinamakan buku-buku (nodus) batang, dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu, daun biasanya berwarna hijau dan menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan nampak hijau pula. Bagian tumbuh-tumbuhan ini mempunyai umur yang terbatas, akhirnya akan runtuh dan meninggalkan bekas pada batang. Pada waktu akan runtuh warna daun berubah menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi perang. (Gembong Tjitrosoepomo)
Bagian-bagian daun antara lain terdiri atas :
1.      helaian daun (lamina)
2.      Tangkai daun (petiole)
3.      Terkadang ada kelenjarnya.
Keistimewaan :
1.      Pada jenis-jenis tertentu kadang tidak dijumpai tangkai daun                                   sehingga daun langsung menempel di ranting disebut dengan                                    duduk daun (sessile), contoh pada ketapang (Terminalia catappa)
2.      Pada jenis tertentu juga dijumpai daun penumpu (stipule) seperti                             sisik  yang  menutup  kuncup daun / kuncup bunga, contoh pada                          nangka, (Artocarpus integra), cempedak (Artocarpus capendens),                                   kluwih (Artocarpus comunis), meranti (Shorea spp.).
Bagian-bagian daun :
1.      Tata daun (Phyllotaxy)
a)      Berhadapan (Opposite)
b)      Melingkar (Whorled/verticillate)
c)      Berseling (Alternate)

2.      Komposisi daun
a)      Daun tunggal (simple leaf)
b)      Daun majemuk ( compound leaf)
·         Majemuk menyirip ( Pinnate) ada yang berjumlah ganjil dan genap contoh pada Leguminosae.
·         Menjari (palmate) contoh pada ubi kayu, jarak, pancasuda.

3.      Bentuk daun
a)      Jarum (Acicular)
b)      Sisik kecil runcing melebar di pangkal (scalelike)
c)      Garis memanjang sempit (Linear)
d)     Memanjang (Oblong), panjang 2,5 x lebar daun sama lebar pangkal ke ujung daun
e)      Lanset (Lanceolate), panjang 3-5 x lebar daun, melebar di pangkal daun
f)       Lanset sungsang (Oblanceolate) mirip lanset namun yang melebar ujung daun
g)      Bulat telur (Ovate), melebar di pangkal daun
h)      Bulat telur sungsang ( Obovate), kebalikan ovate melebar di ujung daunnya
i)        Elips ( Elliptical)
j)        Jorong (Oval), panjang 1,5 x lebar daun
k)      Bundar (Orbicular), panjang = lebar
l)        Bentuk ginjal (reniform)
m)    Bentuk jantung (cordate)
n)      Delta (deltoid)
o)      Belah ketupat (Rhomboid)
p)      Bulat telur terbalik / sudip (Spatulate)

4.      Bentuk tepi daun
a)         Revolute (menggulung kebelakang)
b)         Entire (rata)
c)         Repand (agak bergelombang)
d)        Sinnate (bergelombang dalam)
e)         Crenate (bergigi tumpul)
f)          Serrate (bergigi tajam mengarah ke ujung)
g)         Dentate (bergigi tajam mengarah keluar)
h)         Double serrate
i)           Double crenate
j)           Lobed bergelombang dalam hingga nyaris ke tulang daun utama
k)         Cleft seperti sukun namun di tepi bergigi tajam
l)           Parted berlekuk dalam hingga tulang daun

5.      Bentuk pangkal
a)         Acuminate (meruncing)
b)         Acute (runcing)
c)         Mucronate (runcing dari kulit dengan ujung yang jelas terpisah)
d)        Cuspidate ( berujungkan pucuk yang kaku dan tajam)
e)         Obtuse (tumpul)



f)          Rounded (bundar membusur penuh)
g)         Truncate (terpotong)
h)         Emarginate (berlekuk)

6.      Ujung daun
a)         Cuneate (segitiga sungsang)
b)         Acute (runcing)
c)         Cordate ( bentuk jantung)
d)        Inequilateral (asimetri)
e)         Obtuse (tumpul)
f)          Rounded (bundar/membusur penuh)
g)         Truncate (terpotong)
h)         Auriculate (bertelinga, berbentuk tombak pada bagian depan besar                          dan punca-punca kecil pada kaki.

7.      Tipe pertulangan daun
a)         Sejajar (pada monokotil)
b)         Menjala/terbuka ( pada dikotil) dibagi menjadi 3 macam yaitu :                                # Menjari pada pancasuda, mahang.
              # Bersirip pada kebanyakan daun
              # Membusur (arcuate) contoh pada Ginkgo biloba
8.      Sifat permukaan daun
a)         Glabrous (licin/gundul)
b)         Pubescent (berbulu lembut)
c)         Villous (berambut panjang lurus)
d)        Tomentose (berambut ikal/wol)
e)         Scabrous (berambut pendek kasar)
f)          Glaucous (warna putih kebiruan/berlilin)
g)         Rugose ( berkeriput karena tulang daun tenggelam)
h)         Grandular ( berresin/ berminyak)
i)           Daun tebal berdaging (coriaceous) atau tipis (membraneous)
Secara umum fungsi daun sebagai berikut.
1)      Membuat makanan melalui proses fotosintesis.
            Pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan parenkim             palisade.sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada     jaringan spons.
2)      Sebagai tempat pengeluaran air melalui transpirasi dan gutasi.
3)      Menyerap CO 2 dari udara.
4)      Respirasi.
5)      Sebagai organ pernapasan. Di daun terdapat stomata yang befungsi sebagai    organ respirasi (lihat keterangan di bawah pada Anatomi Daun)
6)      Tempat terjadinya transpirasi.
7)      Tempat terjadinya gutasi.
8)      Alat perkembangbiakkan vegetatif.
         Modifikasi daun
Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi. Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain.
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan. Seperti duri, contoh: kaktus dan Penyimpan cadangan makanan, contoh: kol/kubis.

METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Alat yang digunakan :
-                Pensil 2B
-                Pensil warna
-                Penghapus
-                Penggaris

B.     Bahan yang digunakan :
-                Daun jambu biji
-                Daun sirih
-                daun belimbing wuluh
-                Daun lamtoro
C.     Prosedur praktikum :
Amati Perbedaan antara daun majemuk dan daun tunggal

Amati dan tentukan bagian – bagian nya



Ukurlah panjang dan lebar masing –masing anak daun
 



Gambar dan beri keterangan bagian – bagin daun yang diamati







III.             HASIL PENGAMATAN
Daun jambu biji (Psidii folium)
Panjang : 12 cm
Lebar     : 4,8 cm
Keterangan :
1.      Ujung daun (apex)
2.      Pangkal daun (basis)
3.      Susunan tulang daun               (nervatio atau vanatio)
4.      Tepi daun (margo)
5.      Helai daun (lamina)
6.      Tangkai daun (petiolus)
7.      Permukaan atas
8.      Permukaan bawah
9.      Warna hijau
Gambar pengamatan :
Gambar literatur :
Daun sirih (Piper folium)
Panjang : 15 cm
Lebar     : 8,8 cm
Keterangan :
1.      Ujung daun (apex)
2.      Pangkal daun (basis)
3.      Susunan tulang daun               (nervatio atau vanatio)
4.      Tepi daun (margo)
5.      Helai daun (lamina)
6.      Tangkai daun (petiolus)
7.      Permukaan atas
8.      Permukaan bawah
9.      Warna hijau

Gambar literatur :

Daun belimbing wuluh (Averhoae folium)
Panjang : 6 cm
Lebar     : 2 cm
Keterangan :
1.      Ujung daun (apex)
2.      Pangkal daun (basis)
3.      Susunan tulang daun               (nervatio atau vanatio)
4.      Tepi daun (margo)
5.      Helai daun (lamina)
6.      Tangkai daun (petiolus)
7.      Permukaan atas
8.      Permukaan bawah
9.      Warna hijau
Gambar pengamatan :
Gambar literatur :

Daun lamtoro (Leucaenae folium)
Panjang : 1,3 cm
Lebar     : 0,4 cm
Keterangan :
1.      Ujung daun (apex)
2.      Pangkal daun (basis)
3.      Susunan tulang daun               (nervatio atau vanatio)
4.      Tepi daun (margo)
5.      Helai daun (lamina)
6.      Tangkai daun (petiolus)
7.      Permukaan atas
8.      Permukaan bawah
9.      Warna hijau
Gambar pengamatan :
Gambar literatur :



IV.             PEMBAHASAN
1.      Daun jambu biji (Psidii folium)
Jambu biji (Psidium guajava L.)
Klasifikasi:
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Ordo                : Myrtales
Family             : Myrtaceae
Genus              : Psidium
Species            : Psidium guajava L.
(Sumber: Steenis. 2002)

Daun jambu biji (Psidium guajava L.)  berbau aromatik dan rasanya sepat. Daunnya merupakan daun tunggal yang  berwarna hijau keabuan, helai-helai daun berbentuk jorong sampai bulat memanjang, ujung daunnya meruncing sedangkan pangkal daunnya juga meruncing tetapi ada pula yang membulat, daun berukuran panjang  antara 6 cm sampai 15cm dan lebar antara 3cm sampai 7,5cm sedangkan tangkainya kurang lebih 1cm. Daun berambut penutup pendek, tampak berbintik-bintik yang sesungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen, warnanya gelap namun bila dalam keadaan terendam air menjadi tembus cahaya (Karta Sapoetra,1992).





2.      Daun sirih
Klasifikasi Sirih
Regnum        : Plantae
Divisio          : Spermatophyta
Sub divisio   : Angiospermae
Kelas            : Dicotyledonae
Ordo             : Piperales
Famili           : Piperaceae
Genus           : Piper
Spesies         : Piper betle Linn

Bagian daun tanaman sirih memiliki bentuk serupa jantung.Daunnya tunggal dan pada bagian ujung cenderung runcing. Daun ini tersusun dengan cara selang seling. Pada tiap daunnya terdapat tangkai. Daun tersebut memiliki aroma yang cukup khas apabila diremas. Daun ini memiliki kisaran panjang antara 5 sampai 8 cm. Lebarnya mulai dari 2 cm sampai 5 cm. 



3.      Daun belimbing wuluh
Kingdom         : Plantae/ Plants
Sub kingdom   : Tracheobionta/ Vascular Plants
Super division : Spermatophyta/ Seed Plants
Division           : Magnoliophyta/ Flowering Plants
Classis             : Magnoliopsida/ Dicotyledons
Sub classis       : Rosidae
Ordo                : Geraniales
Familia            : Oxalidaceae/ Wood Sorrel Family
Genus              : Averrhoa Adans/ Averrhoa
Species            : Averrhoa bilimbi L.
Binomial Name : Averrhoa bilimbi L.
Common Nama : Bilimbi
Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) merupakan jenis daun majemuk.Daun majemuk tangkainya bercabang-cabang dan pada satu cabang terdapat lebih dari satu helaian daun.Daun belimbing wuluh merupakan daun tidak sempurna karena tidak memiliki bagian daun dengan lengkap.Permukaan atas daun belimbing wuluh berwarna hijau tua dan terdapat bulu-bulu halus dan permukaan bawahnya berwarna hijau muda.Tepi pada daun belimbing wuluh rata (etire), dagingnya seperti kertas dan lumayan tipis (papiraceus), dan susunan tulang daunnya menyirip (penninervis). Ujung daun belimbinng wuluh meruncing (acutus) sedangkan pangkal daunnya membulat (rotundatus). Panjang daunnya 6 cm dengan lebar 2 cm.




4.      Daun lamtoro
Kerajaan          : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Fabales
Famili              : Fabaceae
Genus              : Leucaena
Spesies            : Leucaena leucocephala L.
(Suprayitno,dkk.,1995)
lamtoro mudah beradaptasi dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika termasuk pula di Indonesia.Tanaman semak atau pohon tingggi sampai 2-10 m, bercabang 10 banyak dan kuat, dengan kulit batang abu-abu dan 10enticels yang jelas. Daun bersirip dua dengan 3-10 pasang sirip, panjang daunnya 1,3 cm dan lebar 0,4 cm ujungnya runcing dan pangkal daun miring, permukaan berambut halus dan tepinya berjumbai.
Petai cina oleh para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia hampir musnah setelah terserang hama wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah tua juga dapat dilakukan dengan cara stek batang (Anonim, 2011).
           



V.    KESIMPULAN
        Berdasarkan praktikum ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa setiap daun dari semua macam tanaman memilki karakteristik masing-masing. Karakteristik itu meliputi bentuk daun, bentuk tepi daun, bentuk pangkal daun, bentuk ujung (afeks) daun, bentuk pertulangan daun, dan lain semacamnya. Bentuk daun ada yang majemuk dan atau tunggal, tepi daun ada yang bergerigi kasar maupun rata, bentuk pangkal daun ada yang membulat, tumpul, atau berlekuk, ujung daun (afeks) bentuknya ada yang runcing, meruncing dan atau tumpul, dan juga bentuk pertulangan daunnya ada yang meyirip maupun bersatu dengan tulang cabang yang lain.




VI. DAFTAR PUSTAKA
(Gembong Tjitrosoepomo)
                       Anonim, 1991. Dasar-dasar silvicultur. Universitas Gadjahmada                               Yogyakarta.
                       Anonim, 1998. Petunjuk Praktikum Teknologi Benih. Fakultas                                  Kehutanan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.
                       Bhojwani SS, & Bhatnagar, S.P., 1974. The Embryology of                                      Angiosperms. Vikas publishing House PVT LTD. New Delhi, India.
                       Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman & Company. San Fransisco London.



                                         



Samarinda, 17 Desember 2015

Menyetujui
Pemimbing                                                      Praktikan


(Mila Ulfah Farista A.Md.Far)                                   (Eka Saatur Rohmah)